Amazon Ciptakan Speaker Yang Mampu Berkomunikasi

Amazon Situs Service (AWS) menunjukkan tehnologi kecerdasan buatan berbasiskan cloud punya mereka di arena Hackday 2017 di Singapura. Tehnologi itu dapat digunakan untuk mengetahui muka orang, sampai bikin dialek bhs untuk robot.

Alex Smith, Media and Entertainment Solution Architect, AWS APAC menerangkan kalau tehnologi kecerdasan buatan itu terbagi dalam beberapa service tidak sama serta dapat dipadukan sesuai sama keperluan.

Kekuatan yang diperlihatkan Amazon diantaranya tehnologi Amazon Lex, software pembuatan chatbot atau robot yang dapat menjawab pertanyaan orang ; serta Amazon Polly, yaitu software untuk berikan aksen atau dialek dalam kalimat yang disampaikan oleh chatbot.
Diluar itu, ada pulaAmazon Rekognition untuk mengetahui muka, objek atau isi satu photo.

Speaker yang dapat diperintah

Masalah Amazon Lex serta Polly, Alex mencontohkannya lewat gadget bernama Amazon Echo. Ini adalah satu speaker pandai yang tersambung dengan cloud serta dapat merespon kalimat atau perintah pemakainya.

“Alexa. Read Singapore Wikipedia, ” katanya memberi perintah pada Echo.

Baca Juga Info Tentang :  Harga Sembako

Echo yang ada dihadapan jurnalis juga merespon dengan membacakan satu info umum tentang Singapura, seperti nama resmi serta tempatnya. Bila diperintahkan untuk berhenti, jadi speaker mungil itu bakal berhenti membaca walau info belum komplit.

Amazon Echo, speaker pandai yang bertumpu pada service Amazon Lex serta Polly. (Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS. com)
“Kemampuan berikut yang diantaranya didapat dari Amazon Lex serta Polly. Lex mengerti teks serta megubahnya jadi nada, lantas Polly bikin nada yang keluar itu dapat sesuaikan aksen bhs atau dialek spesifik, ” jelas Alex.
Inginal wajah

Hal menarik lain dari kecerdasan buatan yang tengah diperkembang oleh Amazon yaitu Rekognition, yaitu masalah kekuatan mengetahui objek serta muka. Misalnya waktu menjajaran photo diisi muka orang serta buah-buahan, jadi software itu mampu memisah mana yang disebut muka orang serta mana yang disebut objek buah.

Software juga memberi tanda tentang seberapa tingkat kepercayaan kalau sisi yang diperlihatkan betul-betul muka serta buah, bahkan juga dapat memberikan indikasi apakah orang dalam photo itu tengah tersenyum atau tak.

Contoh itu cuma kekuatan basic dari Rekognition. Pada step pengembangannya, software yang berbasiskan cloud ini toh dapat digabungkan dengan beragam keperluan lain.

“Misalnya untuk bikin system akses VIP berdasar pada inginalan muka. Rekognition dapat digunakan untuk meningkatkan alat pembanding muka, dari photo ke photo, ” jelas Alex.

“Jadi photo orang yang datang dapat dibanding dengan yang photo tersimpan di database, lantas software ini bakal tunjukkan apakah keduanya orang yang sama. Perbandingan ini tetaplah dapat dikerjakan walau pose orang itu beralih atau keadaan pencahayaan tidak sama, ” paparnya.

Satu diantara kunci kekuatan inginalan ini, menurut Alex, yaitu kekuatan Rekognition untuk mengetahui titik-titik di wajah dan mengetahui ketidaksamaan atau persamaannya.

Service serupa Lego

Ketiga kecerdasan buatan itu akan selalu berkembang. Pasalnya dibalik ketiganya ada pula tehnologi machine learning, yaitu algoritma yang bikin computer dapat belajar serta semakin cerdas bersamaan makin banyak data yang diolahnya.

Diluar itu, kecerdasan buatan itu adalah service yang terbuka untuk disewa oleh siapa saja serta dipadukan dengan service AWS yang lain.

“Layanan yang kami siapkan itu serupa lego. Dapat digunakan untuk bangun apapun. Kami tak berikan tuntunan langkah membuatnya, namun sediakan service yang dapat dipadukan sesuai sama keperluan, ” pungkas Alex.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *